Rabu, Agustus 19, 2009

INGIN JADI PENULIS SKENARIO, MULAILAH MENULIS

*Pengantar Judul*

Ketika membaca judul itu, pasti pertanyaan pertama adalah : ya iyalah… pasti menulis. Tapi gimana menulisnya ? Emangnya gampang? Hal ini juga pernah
terjadi ketika saya memakai judul yang sama ketika berbicara soal dunia tulis menulis (cerpen, novel). Tapi kalau memang ingin menjadi penulis skenario, ya tulislah skenario itu.

*Pengantar Makalah*

Menulis skenario merupakan sebuah profesi yang cukup menjanjikan. Layaknya profesi yang lain, menulis skenario juga dituntut memiliki keahlian. Selain
itu tentu saja kedisplinan, kemauan dan kesempatan. Tapi buat saya, tetap dan lagi-lagi, dalam hal apa pun, kemauan adalah kata kunci yang paling utama. Karena tanpa kemauan, keahlian, kedisiplinan dan kesempatan yang didapatkan, pasti akan menjadi sia-sia.

Saya jadi teringat pada almarhum bapak saya yang pernah berkata, "Tidak ada
profesi apa pun yang bisa membuat kamu kaya, tapi kamulah yang berbuat
melalui profesi itu untuk menjadi kaya."

Itu artinya, khususnya buat saya, kemauanlah yang paling utama—dalam segala
bidang (dengan tujuan apa pun – tentang tujuan ini, masing-masing dari kita
silakan menyikapinya sendiri). Karena dari kemauan, akan muncul kedisplinan,
dari kedisplinan akan menjadi keahlian, dan bila sudah memiliki keahlian,
maka Insya Allah, kesempatan itu pun ada.

Lalu yang paling sering kali terdengar, kesempatan itu susah sekali
datangnya, dan kalau pun datang, dia tidak pernah dua kali datang. Jadi
ketika kesempatan itu datang, langsung "disergap". Benar, hal itu sangat
benar. Tetapi bagaimana dengan pernyataan ini : "kesempatan itu tidak akan
pernah datang dan tidak datang dua kali bila kita menunggu, tapi dia akan
datang berkali-kali bila kita mengejarnya."

*Pointnya : tetap KEMAUAN.*


*I**si Materi*

Sekarang mari kita masuk pada materi pembicaraan kita yang tentunya semua
ini disajikan untuk para pemula yang ingin belajar menulis skenario. Bagi
yang sudah "ahli" atau "terbiasa", jangan segan-segan untuk memberikan
ilmunya di sini.

Begitu banyaknya buku panduan untuk menulis skenario, yang merupakan sebuah
bentuk bacaan renyah dan bergizi. Sangat menyenangkan membacanya. Buku-buku
semacam itu bisa menjadi amunisi dalam benak kita—paling tidak—kelak akan
membangkitkan alam bawah sadar kita.

Lalu ada yang bilang, "kok setelah saya membaca buku-buku semacam itu tetap
tidak bisa menulis skenario". Pertanyaannya, sudah mencobakah ? Kalau pun
sudah, sudah berkali-kalikah ? Kalaupun sudah berkali-kali, patah
semangatkah ? Kalau tidak patah semangat, terus mencoba lagikah ? Pertanyaan
ini akan menjadi sangat panjang, yang intinya tetap : MENULISLAH.

Pada dasarnya, membuat skenario tidak jauh berbeda dengan menulis cerpen,
novelet maupun novel. Sama-sama memiliki sebuah bahan dasar, yaitu : Ide
atau gagasan atau bolehlah kita katakan "premis". Ide atau gagasan sebuah
cerita menjadi sebuah dasar atau jiwa dari cerita itu sendiri. Yang
membedakan antara skenario dan bentuk tulisan lainnya, hanyalah dari
struktur dan tetek bengeknya saja.

Sebuah cerita yang bagus, tanpa premis yang kuat akan terasa hambar. Premis
dalam sebuah skenario biasanya lebih difokuskan pada tokoh utama. Premis
kadang dianggap pula sebagai sebuah KONSEP, konsep sentral atau ide cerita
dalam penulisan skenario.

Sebagai contoh misalnya :

"Tentang Sisi yang pergi bersama teman-temannya ke sebuah pulau, lalu di
pulau itu dia bertemu dengan seorang laki-laki yang sangat menakutkan, yang
membuat Sisi dan teman-temannya merasa diteror, dan ternyata diketahui, itu
adalah bapak kandungnya yang telah lama pergi".

Premisnya biasanya diarahkan dalam konflik. Dalam konflik contoh di atas,
Sisi berusaha untuk menghindari bahkan mungkin (kita buat saja) yakin kalau
(misalnya) pencurian atau pembunuhan yang terjadi dilakukan oleh si
laki-laki menakutkan itu. Di sisi lain dalam penyelidikannya dia dikejutkan
oleh satu kenyataan kalau laki-laki itu adalah bapak kandungnya. Lalu
misalnya lagi : (begitu banyak bisa kita buat)

Nah, dari contoh itu, premis atau ide cerita sederhana itu mengarah dalam
diri tokoh utama.

Dari sinilah skenario mulai berproses dengan bagan yang biasa kita kenal :

*BASIC IDEA – BASIC STORY – SINOPSIS – TREATMENT (SCENE PLOT) – SKENARIO*.

*Premis* mengarah menjadi *Basic Idea (BI)*, yang merupakan gagasan lebih
lanjut dari premis terhadap skenario yang akan kita buat. Dalam BI ini,
belum ada gambaran tentang cerita, tokoh, bahkan adegan demi adegan yang
akan kita buat. BI saya anggap perlu, karena ini diperlukan untuk menjaga
arah cerita, agar cerita tetap berada di jalannya.

Contoh BI yang kita angkat dari premis di atas :

"Kegelisahan seorang remaja yang ingin tahu siapa bapak kandungnya dan rasa
kecewanya terhadap ibunya yang menutupi soal itu".

Nah, dari sini kita sudah bisa membayangkan arah skenario yang akan kita
buat. Tapi kita belum memiliki acuan yang nyata, bahkan cerita secara garis
besarnya pun belum kita punya.

Berangkat dari BI, kita mengarah pada *Basic Story (BS*). Di dalam BS inilah
kita mencoba membuat arahan cerita yang sedikit lebih jelas. Terutama
tentang tokoh utama, tokoh pembantu, dan tokoh-tokoh lainnya yang
diperlukan. Juga kemana arah cerita yang akan kita buat.

Contoh BS :

"Karena tidak mendapatkan kejelasan siapa bapak kandungnya, Sisi kecewa
terhadap ibunya. Dia lalu mengajak teman-temannya untuk berlibur ke sebuah
pulau yang setuju setelah mengetahui apa yang dialami Sisi. Ada yang pro dan
kontra pada Sisi akan sikapnya pada ibunya. Di pulau itu, Sisi dan
teman-temannya mengalami peristwa-peristwa aneh, dengan terjadi pencurian
bahkan pembunuhan. Mereka saling curiga. Tak sengaja bertemu dengan seorang
lelaki yang mereka anggap sebagai pelakunya yang kemudian diketahui itu
adalah bapak kandungnya Sisi". (… seterusnya bisa diisi masing-masing)

Nah, secara sederhana BS sudah kita dapatkan. Kita bisa mendapatkan arahan
cerita yang lebih lengkap dari sebelumnya.

Setelah BS kita lalui, kita mulai membuat *sinopsis*. Berbeda dengan
sinopsis cerpen atau buku, sinopsis skenario harus dibuat jauh lebih
lengkap. Dalam sinopsis skenario, urutan cerita sudah mulai terbentuk, meski
belum final. Fungsinya, bila kita hendak mempresentasikan, kita sudah punya
gambaran utuh dari cerita itu.

Biasanya dalam sinopsis diutamakan menceritakan :

Tokoh utama dan tokoh pembantu – peristiwa dan waktu kejadian – main story
(cerita utama) dan side story (cerita pendukung) – motivasi tokoh –
hambatan-hambatan yang dialami tokoh utama – jalan keluar dari setiap
masalah dan hambatan serta apa yang dilakukan para tokoh – ending atau
penutup dari cerita.

Itulah maksud saya perbedaannya dengan sinopsis sebuah cerpen atau pun
novel.

Lalu sekarang kita masuk pada *treatment*.

Treatment (banyak juga yang menyebutnya scene plot) adalah sebuah arah atau
sketsa yang lebih jelas untuk menuju ke sebuah skenario. Di sini susunan
cerita sudah terbentuk secara nyata, dimulai dari awal cerita sampai akhir,
pergerakan tokoh, kejadian demi kejadian dikemukakan secara jelas. Sehingga
dramatik cerita nampak nyata dan tidak kabur.

Dalam menulis treatment, dialog sama sekali belum dibuat, karena treatment
adalah arahan scene by scene yang menceritakan apa yang terjadi dan
bagaimana kelanjutan dari scene by scene menuju ending.

Treatment diperlukan, karena selain kita sudah menangkap dan menilai daya
tarik cerita secara utuh (juga memudahkan untuk mengoreksinya sebelum
membuat skenari), dalam presentasi pun kita dengan mudah menceritakan apa
yang ingin kita buat.

Barangkali mudahnya seperti ini. Kita harus pahami dulu tentang segala macam
tetek bengek teknis penulisan skenario.

*Tentang setting :*

Biasanya ditulis EXT (exterior) atau INT (Interior) yang menandakan di mana
kejadian yang akan kita tuliskan itu terjadi. Lalu ada tempat yang akan
tuliskan. Hingga jadinya misalnya :

· 01. EXT – RUANG KELAS

01 menunjukkan itu berada pada scene ke berapa. Seterusnya 01, 02, 03, …

Ext itu menunjukkan berada di luar dalam hal ini, di luar kelas. Bila ingin
menunjukkan di dalam dituliskan : Int.

*Tentang Waktu :*

Ini diperlukan untuk mengingatkan, kapan kejadian itu terjadi. Hingga
jadinya :

· 01. EXT – RUANG KELAS – PAGI

Ada juga yang menambahkan tentang hari di belakangnya, ini untuk mengetahui
pada hari keberapa kejadian itu terjadi. Jadi ditambahkan :

· 01. EXT – RUANG KELAS – PAGI (h-1)

H-1 itu menunjukkan hari pertama. Berikutnya H-1, H-2, H-3, …

*Tentang Pemain :*

Ada juga skenario yang memerlukan nama pemainnya dituliskan, dengan maksud
agar yang emmbaca segera tahu siapa yang bermain dari scene by scene, hingga
ketika membuat breakdown (biasanya dilakukan oleh bagian yang memproduksi
skenario), tidak kesulitan lagi untuk mengetahui siapa pemainnya. Tapi
tidak semua yang menerapkan gaya seperti itu. Hingga jadinya :

· 01. EXT – RUANG KELAS – PAGI

Pemain : Sisi, Indra, Wahyu

Hal teknis lainnya adalah seputar tetek bengek soal skenario. Misalnya
CUT-TO, INTERCUT-TO, CONT'D-TO, INSERT, VOICE OVER dan lainnya yang dengan
mudah bisa kita pelajari. Untuk teknis yang ini, silakan membaca buku-buku
panduan skenario yang sudah ada.

Yang tetap ingin saya tekankan dalam diskusi kita ini, adalah sisi mudah dan
sederhana tanpa diribetkan oleh masalah-masalah teknis. Jadi pointnya tetap
:

*BASIC IDEA – BASIC STORY – SINOPSIS – TREATMENT (SCENE PLOT) – SKENARIO.*

Nah, kalau semua ini sudah kita kuasai, mari, *mulailah menulis SKENARIO…*

Caranya gimana, mulaikan menuliskan dialog dari treatment atau scene plot
yang kita buat. Yang perlu diingat, skenario bisa melompat ke mana saja,
baik itu dari segi setting maupun waktu.

Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam,

0 komentar:

Poskan Komentar