Tampilkan postingan dengan label broadcast. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label broadcast. Tampilkan semua postingan

Sabtu, April 24, 2010

Pentingkah Informasi Gaya Kamera dalam Skenario?

0 komentar
Pentingkah menuliskan gaya kamera seperti zoom in-zoom out dalam naskah? pertanyaan ini terukir ketika saya kesulitan untuk menuliskan adegan dalam naskah. 

Sebagai penulis skenario seringkali kita kehabisan kata-kata untuk menggambarkan imajinasi kita secara tertulis. Alhasil, kita menggunakan bahasa-bahasa teknis di dalam skenario kita. Berikut akan saya paparkan apa yang telah saya pelajari dari ilmu dan dari pengalaman. 

pergerakan atau posisi kamera tersebut demikian PENTING untuk dimasukkan ke dalam skenario dan dimengerti oleh sutradara anda bisa memasukkannya. Jika tidak terlalu penting, anda tidak perlu memasukkannya.

Misalnya, saya bermaksud membuat scene long take (satu shot panjang tanpa putus) seorang pejalan kaki di jalan raya. Karena menurut saya elemen long take ini adalah krusial, pada awal skenario saya sudah menuliskan kamera mengikuti pemain ke mana pun ia pergi (dan ditulis dalam huruf kapital). Dengan menuliskan ini, saya memiliki tanggung jawab untuk memberikan alasan kepada sutradara mengapa elemen long take tersebut krusial. Misalnya alasan saya adalah, "judul filmnya aja Long Take, kalo diambilnya nggak long take ya percuma dong Pak Sut!" Ini misalnya lho.

Mari kita bahas contoh awal:

"PRANG! Kaca pecah, camera menyorot wajah pemain yang terkejut. Zoom In."

Ada banyak cara untuk merealisasikan "wajah pemain yang terkejut", dan kamera menyorot plus zoom in termasuk salah satu cara yang sangat biasa dan bisa dianggap klise oleh sutradara yang biasa berimajinasi. Mungkin saja seorang sutradara ingin membuat dua shot, di mana yang satu adalah Medium Shot pemain, cut to Close Up wajah pemain. Atau ia ingin mengambil detil pergerakan tangan atau kaki atau rambut dari pemain. Bisa saja sutradara lebih memilih track in ketimbang zoom in. Belum lagi jika ia memutuskan untuk menggunakan handheld. Jadi ada banyak gaya dan imajinasi yang mungkin tak terpikirkan oleh anda.

Intinya, jangan batasi kreativitas sutradara untuk memilah shot dengan mematok posisi dan pergerakan kamera. Pilih sutradara yang kompeten, berikan ia ruang, dan percayakan scene-scene anda padanya. Jika anda sebagai penulis skenario juga bertindak sebagai sutradara, menurut saya anda bebas memasukkan style kamera yang anda inginkan, walaupun sebenarnya informasi type of shot, angle, lensa, dan camera movement, sudah memiliki tempat tersendiri di dalam director's shot.

Jika sudah sering bekerja sama, seorang produser juga dapat memperkirakan apa saja alat yang akan digunakan oleh sutradara dalam sebuah scene tanpa penulis skenario harus menulis informasi kamera.

Semoga bermanfaat.

Senin, Februari 01, 2010

Tentang Sinematografi

1 komentar
Sejarah sinematografi sangat panjang, namun di sini tidak akan dibahas tentang “perjalanan” sinematografi dari awal. Kemajuan teknologi akan terus berkembang, demikian juga dengan teknologi sinematografi, sehingga kini dikenal dengan sinematografi digital. Kemajuan ini tentu saja akan lebih memudahkan para sineas dalam berkarya. Sebelum lebih lanjut membahas sinematografi, baiknya kita fahami dulu makna dari sinematografi itu sendiri. Sinematografi adalah kata serapan dari bahasa Inggris cinematograhy yang berasal dari bahasa latin kinema ‘gambar‘. Sinematografi sebagai ilmu serapan merupakan bidang ilmu yang membahas tentang teknik menangkap gambar dan menggabung gabungkan gambar tersebut hingga menjadi rangkaian gambar yang dapat menyampaikan ide.
Sinematografi memiliki objek yang sama dengan fotografi yakni menangkap pantulan cahaya yang mengenai benda. Karena objeknya sama maka peralatannya pun mirip. Perbedaannya fotografi menangkap gambar tunggal, sedangkan sinematografi menangkap rangkaian gambar. Penyampaian ide pada fotografi memanfaatkan gambar tunggal, sedangkan pada sinematografi memanfaatkan rangkaian gambar.Jadi sinematografi adalah gabungan antara fotografi dengan teknik rangkaian gambar atau dalam senematografi disebut montase atau montage.


D.O.P


D.O.P atau Director of Photography adalah seorang seniman yang melukis dengan cahaya. Dia harus familiar dengan komposisi dan semua aspek teknik pengendalian kamera dan biasanya dipanggil untuk menyelesaikan permasalahan teknis yang muncul selama perekaman film. D.O.P sangat jarang mengoperasikan kamera. Kerja D.O.P sangat dekat dengan sutradara untuk mengarahkan teknik pencahayaan dan jangkauan kamera untuk setiap pengambilan gambar. Itu adalah salah satu alasan utama kita untuk berusaha mendapatkan uang untuk menjadi entertain. Karena jika bukan untuk bakat dan pengetahuan sinematografer tidak ada jalan untuk membuat dunia kata-kata penulis kedalam gambar yang bisa dilihat oleh semua orang” demikian kata Sinematografer Michael Benson.


Banyak orang berpikir bahwa sutradara mengatur seorang aktor apa yang harus dia lakukan dan D.O.P mengambil gambar. Ini benar, tetapi ada banyak lagi proses selain hal tersebut. Perubahan dari script ke dalam layar lebar adalah melalui lensa seorang D.O.P. Pembuatan film adalah bekerja bersama dengan apa yang ada disana, dan memfilter apa yang ada disini melalui suatu alat yang disebut kamera. Sampai frame pertama digunakan, ini hanyalah sebuah kontrak, ide, konsep, script dan harapan.


Sinematografi tidaklah hanya melihat melalui kamera dan mengambil gambar. Namun tentu saja memerlukan mata yang tajam dan imaginasi yang kreatif. Ini juga memerlukan pengetahuan tentang kimia dan fisika, persepsi sensor yang tepat dan tetap fokus kepada detail. Hampir dari semua itu memerlukan kemampuan untuk memimpin dan juga mendengar, untuk menjadi bagian dari tim kreatif dan proses, dapat dengan memberikan saran yang membangun dan kritis. Sinematografer memerlukan waktu yang panjang dalam pekerjaannya dan memerlukan pengamat, waktu yang pendek untuk masuk ke dunia yang baru
Bekerja dengan Sutradara


Tanggung jawab utama dari D.O.P adalah untuk menciptakan jiwa dan perasaan dalam gambar dengan pencahayaan mereka. Tergantung kepada gaya sutradara, anda dapat memutuskan untuk memilih penampilan film anda sendiri, atau, biasanya setelah meeting dengan sutradara dan biasanya dilakukan bagian artistik yang anda pilih untuk mengatur teknik pencahayaan yang sesuai. Atau sutradara memiliki ide sendiri seperti apa bentuk film ini dan ini akan menjadi tugas D.O.P untuk memenuhi keinginan ini. Semua jalan kerja yang berbeda-beda ini hanyalah panduan yang menyenangkan dalam usaha untuk memenuhi harapan sutradara dan memberikan apa yang dia inginkan dan semoga memberikan kebanggaan dan kesetiaan seorang sutradara.


Sutradara dan sinematografer seharusnya secara konstan berdiskusi tentang angle kamera, warna, pencahayaan, blocking dan pergerakan kamera. Sutradara tahu apa yang dia inginkan. Bagaimana dia mengerjakan ini biasanya tergantung kepada sinematografer. Sinematografer menawarkan ide dan menerima penolakan. Sutradara adalah kapten dari kapal. Seberapa banyak atau sebatas mana kolaborasi yang dia inginkan adalah keputusannya


Sinematografer Darius Khondji mengatakan ”Saya melihat pekerjaan saya adalah untuk membantu director dalam memvisualisasikan film. Ini akan menjadi proses yang terus-menerus, ada banyak hubungan dengan sutradarara tidak hanya sebatas profesional, sering kali menjadi teman dekat dalam kolaborasi kami.
Sebagai seorang manager, saya mempelajari banyak hal tentang bagaimana mengatur orang. Saya belajar bagaimana merencanakan dan apa peran penting sebuah tim. Saya belajar cara menangani lokasi, bekerja sebagai AD, mengendarai mobil, dan sebagian pertunjukan, bahkan sebagai pemegang kunci. Semua posisi adalah pelajaran yang tidak ternilai,” kata Neil Roach.


Salah satu pelajaran terpenting yang telah dipelajari Neil Roach sepanjang karirnya tentang pembuatan film adalah mengenai kolaborasi. “Saat anda bekerja dengan sutradara yang tepat, anda dapat menghasilkan kerja yang menakjubkan” Dia berkata, “Tidak menjadi masalah dengan sutradara, yang harus anda lakukan adalah anda bekerja yang terbaik. Karena tugas alami seorang kameramen adalah selalu berkata ‘tidak’. Tidak, anda menginginkan terlalu banyak cahaya. Atau ‘tidak’ anda tidak dapat melakukan ini dan itu. Dalam hati, saya selalu menggambarkan ini untuk menyenangkan diri saya sendiri, dan memperoleh apa yang saya inginkan pada waktu yang sama, memberikan pegawai apapun yang mereka inginkan.”


Sebagai seorang kepala departemen senior, D.O.P diharapkan dapat menjadi contoh keseluruhan unit. Sering kali hanya individu dari sinematografer yang bekerja sebatas kualitas fotografi saja. Ketepatan waktu, perilaku kru, pakaian, kesopanan semua menjadi satu, setidaknya bagian dari D.O.P sehingga mereka menetapkan standar profesional untuk setiap kru. D.O.P bertangung jawab untuk semua hal yang berkaitan dengan fotografi pencahayaan film , exposure, komposisi, kebersihan, dll, yang semua itu adalah tanggung jawab mereka


Operator kamera memainkan peran yang terpenting dalam membuat film dengan sutradara. Seorang operator pemula akan tidak percaya diri dengan sutradara. Ada segitiga sutradara, kamera (dan operator) , serta aktor” Michael Benson menjelaskan “Saat segitiga tersebut rusak, jalur komunikasi juga akan rusak. Ini dapat menjadi berbagai bentuk, tetapi segitiga tersebut adalah hal terpenting dari film dan pencerita dapat berafiliasi dengan ini. Operator adalah orang yang tahu jika suatu pengambilan sudah fokus. Saat ini ada suatu kesalahan bahwa teknologi dapat membetulkannya. Tetapi jika pengambilan tidak fokus, tidak ada teknologi yang dapat merubah supaya fokus”


Grip


Grip bertanggung jawab pada dolly track dan semua gerakan yang dilakukannya. Dia juga bertanggung jawab untuk memindahkan tripod untuk setup selanjutnya: focus puller biasanya bersama dengan kamera. Salah satu hal terpenting adalah kamera tidak boleh dipindahkan saat dia masih berada di tripod. Grip juga bertanggung jawab terhadap gedung, atau mengatur gedung, mengawasi gedung, setiap konstruksi yang diperlukan untuk mendukung jalur atau pergerakan kereta supaya bisa berjalan. Tingkat dan kerataan kerja dorongan track adalah kunci sukses pengambilan gambar. Perawatan jalur dolly dan peralatannya adalah tugas grip. Mereka akan sering membangun atau membuat beberapa hal kecil untuk memperbaiki kamera di hampir setiap objek


Gaffer


Gaffer adalah seorang kepada elektrik dan akan bekerja langsung dengan D.O.P. Beberapa D.O.P akan menentukan bentuknya dan pintu gudang dan yang tidak dia inginkan- ini tergantung kepada bagaimana mereka ingin bekerja bersama, Sering D.O.P akan dekat dengan gaffer daripada anggota kru lain. Mereka sangat vital untuk kesuksesannya


Sejak pertama kali sinematografer Ward Russell “naik“ menjadi Director Photography, dia memberikan nasihat kepada gaffernya “Saya selalu memberitahukan kamu bahwa kamu dapat belajar dari bayangan daripada dengan melihat cahaya Anda dapat mengatakan arah, kelembutan, intensitas, dan perbandingan kepada bayangan. Bayangan memberikan kamu kontras dan kontras yang memberikan kamu bentuk dan drama. Exposure saya selalu sesuai, tidak lebih, seberapa detail saya ingin melihat dalam bayangan sama dengan seberapa terang saya ingin dari cahaya. Untuk saya, sekali anda memiliki titik yang tepat untuk cahaya, proses kreatifnya adalah seberapa banyak cahaya yang dapat anda ambil


Kamera Film


Manusia telah dibohongi oleh film selama berabad-abad. Salah satu alasannya adalah oleh satu peralatan kecil sederhana (yang juga merupakan peralatan dasar sinematografer), kamera film, untuk merekam langsung dari imaginasi kita. Hal pokok dari kamera film adalah beberapa kotak, salah satunya dengan lensa di depan dan mekanisme yang dapat ditarik sesuai dengan lama film setidaknya enam belas kali setiap detik


Hal lainnya memiliki panjang yang sesuai untuk mekanisme film, dengan ruang yang tersisa untuk mengambil gambar setelah exposure. Saat gambar-gambar dari alat ini diproyeksikan oleh mekanisme yang sesuai, mereka memberikan representasi dari scene asli dengan semua pergerakannya yang ada didalamnya untuk ditampilkan dengan benar.


Bagian mesin yang sangat tepat ini memiliki sejumlah fungsi, yang masing-masing memerlukan pemahaman dan perawatan, dari kamera untuk tetap menghasilkan yang terbaik dan konsisten. Seorang kameramen pemula harus mencoba untuk familiar dengan itu semua dan nyaman dengan pengoperasian kamera, sehingga dia dapat berkonsentrasi untuk aspek kreatif dari cinematography. Pergerakan mekanisme film adalah berbeda dengan kamera saat hanya sebagai sebuah kamera. Ilusi dari pergerakan gambar diciptakan oleh pergantian fotografi yang cepat


Menghasilkan gambar yang bergerak cepat dengan panjang tertentu dari gambar yang ada adalah yang menjadi perhatian dari pandangan manusia. Jika gambar dipancarkan ke retina, mata manusia akan melihat gambar, singkatnya, secara keseluruhan dan seterusnya, untuk periode yang singkat, gambar akan tetap berada di dalam manusia saat menjadi redup atau menghilang.


Jika gambar kedua ditembakkan ke retina manusia akan dapat melihat dua gambar yang berkelanjutan tanpa ada sorotan yang pertama.. Proses flashing gambar yang berkelanjutan ini akan membuat otak menganggap tidak ada jarak antara dua gambar tersebut dan pergerakannya lembut. Laju flashing gambar ke mata adalah sepuluh flash setiap detiknya, dalam laju ini efek kedip akan tidak terasa. Hanya di sekitar enam belas atau delapan belas gambar baru per detik yang menyebabkan pergerakan dianggap sebagai suatu pergerakan yang dapat diterima dan efek kedip dapat dikurangi sampai ke titik yang dapat diabaikan.


Seiring pergantian abad, laju frame menjadi 18 frame per detik (fps) menjadi sesuatu yang umum. Saat ini baik kamera dan proyektor masih dengan tuas tangan dan memiliki kecepatan 2 putaran per detik yang akan menghasilkan laju frame, yang sangat nyaman

Rabu, Agustus 19, 2009

FORMAT SKENARIO (Satu dan Setengah Jam serta Telesinema)

1 komentar

Format skenario itu seperti apa, sih? Pasti bingung, ya! Memang beda-beda, kok. Untuk yang satu dan setengah jam, jelas beda. Coba aja pelototin. Pasti beda. Belum lagi yang telesinema seperti FTV (film televisi) atau telesinema (televisi sinema – format layar lebar yang di televisikan).
IKLAN
Dalam konsep industri seperti sekarang, di mana kita disodorkan fenomena para praktisi TV bisa dengan mudah meloncat dari satu TV ke TV tetangga, bahkan pergantian menejer serta direktur sudah hal biasa, tayanan sebuah sinetron nggak bisa lepas dari iklan. No iklan, ya no money. No money, ya no rating. No rating, ambruklah TV itu. Ujung-ujungnya memang duit. Dari rating yang sudah dibakukan oleh AC Nielsen (lembaga terpandang made in USA), akan kelihatan kalau sinetron itu bisa menguntungkan atau nggak, karena disukai dan ditonton pemirsa.

Apa kontribusi penulis skenario? Ya, jelas ada. Penting banget. Penulislah yang tahu banget, kapan sebuah adegan dipotong dan digantikan dengan iklan (commercial break), sehingga pemirsa “kesal” dan “kecewa”, lalu tetep stay tune di TV itu, karena nggak mau ketinggalan kelanjutan dari adegan yang terpotong iklan itu. Kalau si pemirsa memindahkan chanel lewat remote controle ke TV lain, celakalah program itu! Biasanya bagian yang dipotong iklan ini disebut cliff hanger (adegan yang dibiarkan menggantung).
BABAK
Sinetron bedurasi 30 menit (kadang bersihnya bisa 22 menit kalau standar, tapi kalau iklannya penuh bisa cuma 18 menit) format skenarionya terbagi 3 babak (act). Masing-masing babak (act) bisa terdiri dari kisar 4 sampai 6 scene (adegan). Kalau ditotal bisa berjumlah sekitar 12 - 18 scene/adegan. Tayangan iklannya ada 3 kali plus 1 kali setelah opening di awal cerita (bisa setelah credite title; nama-nama pemain dan crew produksi). Jumlah halamannya antara 16 – 25 halaman. Idealnya berkisar 20 halaman. Durasi ini biasanya cocok untuk Serial TV seperti “LUV” (RCTI), “Saras 008” (IVM) atau komedi situasi.

Durasi 60 menit sebetulnya isi ceritanya bisa saja 48 – 42 menit. Malah ada yang cuma 38 menit, karena iklannya penuh. Biasanya ini terjadi pada sinetron yang sangat digemari pemirsa dengan episode panjang. Di kita ada “Tersanjung” (IVM) dan “Si Doel Anak Sekolahan” (RCTI). , serta yang akan menyusul “da Apa dengan Cinta” (RCTI), yang sudah ikontrak RCTI sebanyak 1004 episode. Ngggak menutup kemungkinan lho, jika pemirsa remaja suka, episodenya akan diperpanjang.
Skenario 1 jam terdiri dari 5 babak (act). Setiap babaknya terdiri dari 6 – 8 scene/adegan. Kalau ditotal 30 – 40 scene/adegan. Untuk durasi 1 jam ini, kita mesti pandai-pandai membentuk plot/struktur cerita, konflik, misteri, percintaan, drama, persahabatan, komedi, tragedi, dan kejahatan menjadi satu tayangan yang menarik. Kadangkala kehidupan masa lalu para tokoh juga bisa menjadi bumbu-bumbu penyedap untuk dituangkan di skenario. Kalau telesinema bisa mencapai 9 babak/act. Durasinya mencapai 90 menit plus iklan. Isi ceritanya sih bisa 70 menitan.

5 CARA YANG ‘KATANYA’ GAMPANG UNTUK BERGABUNG MENJADI PENULIS SKENARIO DI INDUSTRI SINETRON TV KITA

1 komentar
Ada begitu banyak industri berguguran di terpa krisis negri ini, tapi ada satu industri yang justru mekar dan menjanjikan di saat yang sama, itulah industri hiburan televisi. Sinetron berhamburan memenuhi jam tayang televisi yang berlomba-lomba menjerat iklan. Orang-orang yang terlibat di Industri inipun mulai memetik hasil yang membuat pesonanya semakin berkilau.


Artis-artis sinetron dengan mudahnya menghamburkan uang semilyar hanya untuk berulang tahun. Sedangkan di tempat lain, pasangan penulis skenario senior mampu menghidupi kehidupannya dengan layak, padahal menulis dari Kanada. Ada lagi pasangan penulis yang memilih untuk membangun sebuah kerajaan berbentuk Rumah Produksi dari hasil cucuran keringat mereka menulis skenario.
Sinetron, suka atau tidak telah mampu menghidupi begitu banyak orang didalamnya. Akan tetapi, walau bagaimanapun, “INI INDUSTRI BUNG!” Ada begitu banyak tuntutan yang menyertainya.


Jika anda merasa tidak tampan, cantik apalagi berbakat akting, tentu janganlah bermimpi menjadi seorang bintang sinetron.Tapi jangan pula bersedih hati, karena begitu banyak peluang yang tersedia di Industri ini, terutama untuk para penghayal yang mendaulat dirinya sebagai “ORANG KREATIF”. Anda bisa menjadi seorang KONSEPTOR yang membuat disain produksi sebuah acara TV atau SINETRON, atau jika anda merasakkan kegelisahan yang harus di curahkan ke dalam bentuk tulisan, kenapa tidak menghayalkan satu jalinan cerita dalam bentuk SKENARIO SINETRON.


Perduli setan jika orang bilang Sinetron kita kacangan, toh yang menonton tetap banyak. Selama menulis datang dari hati bukan cuma semata iming-iming rupiah, berarti kita masih memiliki idealisme. Jangan menulis ketika anda tidak ingin melakukannya, lebih baik tidur ditemani DIAN SASTRO, ya nggak? Keep dreaming, asshole!!!


Nah, jika anda merasa terinspirasi untuk menjadi seorang penulis skenario di Industri Sinetron yang di caci oleh para pengamat TV yang “MENGAKU PINTER”, lebih pinter dari ‘PENTONTON FILM’ yang sebagian besar “KATANYA” adalah ‘ORANG KAMPUNG, PEMBANTU, DSB’, inilah CARA yang mudah-mudahan memudahkan anda untuk bergabung menjadi PENULIS dalam INDUSTRI SINETRON negri ini. Karena untuk masuk ke Industri sebagai penulis baru, SUMPAH MAMPUS, SUSAH BENER...

1.  Ini aturan BASI tapi BASIC, yaitu: SUKA NULIS. Masalah apakah tulisan itu bagus, atau jelek, nanti dululah, yang penting SUKA dulu. Masalah kualitas, biasanya bisa meningkat seiring kuantitas. NULIS...NULIS...dan NULIS...begitu menurut buku-buku TEORI menulis.

2. SUKA NONTON. Menulis SKENARIO adalah memahami bagaimana bahasa tulisan (naskah) menjadi satu guidance bagi bahasa gambar. NONTON YANG BANYAK, membuat kita paham bagaimana FILM bisa ‘BERBICARA’. Perhatikan bagaimana suatu cerita bisa dibangun, bagaimana TRIK menuntun perhatian penoton sehingga akhirnya merasa terjebak pada satu cerita SUSPENSE, atau bagaimana PLANTING dari sesuatu yang terasa begitu remeh ternyata begitu penting di akhir cerita.

3.  BACA SKENARIO BAGUS, BUKU TEORI SKENARIO, ARTIKEL MENGENAI SKENARIO. Nonton doang rasanya nggak cukup, ternyata teori bisa juga membantu. Tetapi secara pribadi, saya berkeyakinan, praktik harus melebihi porsi teori. Karena membaca terlalu banyak teori kadang membuat anda terikat, karena berpikir harus mengikuti apa yang sudah tertulis dalam text book. Padahal imajinasi liar, kreativitas yang inovatif merupakan sumbangan berharga dalam membuat karya yang ‘TIDAK BIASA’. Tapi kembali lagi, pendapat itu bisa berbeda, tergantung cara pandang anda.

4. MAU MENDENGAR KRITIK. Menjadi penulis handal, tentu bukan masalah gampang. Diperlukan pengalaman bertahun-tahun untuk menjadi seperti itu. Proses lama ini bisa di potong jika anda mau mendengar ucapan orang yang lebih berpengalaman. Mereka sudah melakukan TRIAL AND ERROR sebelumnya, jadi untuk apa kita melakukan ERROR lagi jika tumbalnya sudah ada, ya kan? He...he...he...
Mendengar kritik dari orang yang non penulis juga diperlukan. Orang-orang yang suka menonton film, perlu diperhatikan. Mereka bisa mewakili penonton secara keseluruhan. Bagaimana mayoritas penonton tidak suka disuguhi cerita yang berbelit-belit, mudah ketebak dan menggampangkan masalah.

5. MEMPERLEBAR JARINGAN. Ini hal penting ketika anda merasa yakin bisa menulis skenario dengan baik. Sebanyak apapun anda berkarya, tapi akan tetap menjadi koleksi pribadi selamanya jika anda tidak berusaha untuk “MENJUAL” nya. Adalah hal yang sangat sulit jika anda memilih mendatangi RUMAH PRODUKSI hanya dengan contoh karya yang belum pernah di produksi.Mungkin cara ini bisa berhasil bagi segelintir orang, tapi lebih banyak lagi yang gagal. Cara yang lebih mudah untuk memasarkan kemampuan anda menulis adalah dengan cara memperluas perkenalan dengan orang-orang di Industri ini.
Anda bisa mendaftar menjadi anggota MILIS di Internet, seperti LAYARKATA, SINEMA MUDA, dll. Di MILIS tersebut anda bisa mendapat berbagai informasi mengenai peluang menulis atau jika anda beruntung anda bisa berkenalan dengan salah seorang penulis senior, produser TV atau sutradara terkenal.

Cara lainnya adalah dengan mendaftar workshop film. Kenapa saya bilang WORKSHOP bukan SEKOLAH FILM, soalnya SEKOLAH FILM kelama’an seh...Di tempat ini, anda bisa menjalin hubungan yang baik dengan MENTOR yang pastinya punya jaringan yang lebih luas. Cari kesempatan menulis lewat MENTOR anda. Mintalah diperkenalkan dengan banyak orang. Jangan malu untuk memperkenalkan diri. Karena jika anda tidak qualified, sudah dapat dipastikan anda tidak akan bertahan dalam industri ini. Jadi jangan takut dibilang KKN.
Semoga tulisan ini berguna. Semoga anda yang membaca tulisan ini tidak lupa kepada saya, saat sudah menjadi penulis terkenal...nal...nal....

INGIN JADI PENULIS SKENARIO, MULAILAH MENULIS

0 komentar
*Pengantar Judul*

Ketika membaca judul itu, pasti pertanyaan pertama adalah : ya iyalah… pasti menulis. Tapi gimana menulisnya ? Emangnya gampang? Hal ini juga pernah
terjadi ketika saya memakai judul yang sama ketika berbicara soal dunia tulis menulis (cerpen, novel). Tapi kalau memang ingin menjadi penulis skenario, ya tulislah skenario itu.

*Pengantar Makalah*

Menulis skenario merupakan sebuah profesi yang cukup menjanjikan. Layaknya profesi yang lain, menulis skenario juga dituntut memiliki keahlian. Selain
itu tentu saja kedisplinan, kemauan dan kesempatan. Tapi buat saya, tetap dan lagi-lagi, dalam hal apa pun, kemauan adalah kata kunci yang paling utama. Karena tanpa kemauan, keahlian, kedisiplinan dan kesempatan yang didapatkan, pasti akan menjadi sia-sia.

Saya jadi teringat pada almarhum bapak saya yang pernah berkata, "Tidak ada
profesi apa pun yang bisa membuat kamu kaya, tapi kamulah yang berbuat
melalui profesi itu untuk menjadi kaya."

Itu artinya, khususnya buat saya, kemauanlah yang paling utama—dalam segala
bidang (dengan tujuan apa pun – tentang tujuan ini, masing-masing dari kita
silakan menyikapinya sendiri). Karena dari kemauan, akan muncul kedisplinan,
dari kedisplinan akan menjadi keahlian, dan bila sudah memiliki keahlian,
maka Insya Allah, kesempatan itu pun ada.

Lalu yang paling sering kali terdengar, kesempatan itu susah sekali
datangnya, dan kalau pun datang, dia tidak pernah dua kali datang. Jadi
ketika kesempatan itu datang, langsung "disergap". Benar, hal itu sangat
benar. Tetapi bagaimana dengan pernyataan ini : "kesempatan itu tidak akan
pernah datang dan tidak datang dua kali bila kita menunggu, tapi dia akan
datang berkali-kali bila kita mengejarnya."

*Pointnya : tetap KEMAUAN.*


*I**si Materi*

Sekarang mari kita masuk pada materi pembicaraan kita yang tentunya semua
ini disajikan untuk para pemula yang ingin belajar menulis skenario. Bagi
yang sudah "ahli" atau "terbiasa", jangan segan-segan untuk memberikan
ilmunya di sini.

Begitu banyaknya buku panduan untuk menulis skenario, yang merupakan sebuah
bentuk bacaan renyah dan bergizi. Sangat menyenangkan membacanya. Buku-buku
semacam itu bisa menjadi amunisi dalam benak kita—paling tidak—kelak akan
membangkitkan alam bawah sadar kita.

Lalu ada yang bilang, "kok setelah saya membaca buku-buku semacam itu tetap
tidak bisa menulis skenario". Pertanyaannya, sudah mencobakah ? Kalau pun
sudah, sudah berkali-kalikah ? Kalaupun sudah berkali-kali, patah
semangatkah ? Kalau tidak patah semangat, terus mencoba lagikah ? Pertanyaan
ini akan menjadi sangat panjang, yang intinya tetap : MENULISLAH.

Pada dasarnya, membuat skenario tidak jauh berbeda dengan menulis cerpen,
novelet maupun novel. Sama-sama memiliki sebuah bahan dasar, yaitu : Ide
atau gagasan atau bolehlah kita katakan "premis". Ide atau gagasan sebuah
cerita menjadi sebuah dasar atau jiwa dari cerita itu sendiri. Yang
membedakan antara skenario dan bentuk tulisan lainnya, hanyalah dari
struktur dan tetek bengeknya saja.

Sebuah cerita yang bagus, tanpa premis yang kuat akan terasa hambar. Premis
dalam sebuah skenario biasanya lebih difokuskan pada tokoh utama. Premis
kadang dianggap pula sebagai sebuah KONSEP, konsep sentral atau ide cerita
dalam penulisan skenario.

Sebagai contoh misalnya :

"Tentang Sisi yang pergi bersama teman-temannya ke sebuah pulau, lalu di
pulau itu dia bertemu dengan seorang laki-laki yang sangat menakutkan, yang
membuat Sisi dan teman-temannya merasa diteror, dan ternyata diketahui, itu
adalah bapak kandungnya yang telah lama pergi".

Premisnya biasanya diarahkan dalam konflik. Dalam konflik contoh di atas,
Sisi berusaha untuk menghindari bahkan mungkin (kita buat saja) yakin kalau
(misalnya) pencurian atau pembunuhan yang terjadi dilakukan oleh si
laki-laki menakutkan itu. Di sisi lain dalam penyelidikannya dia dikejutkan
oleh satu kenyataan kalau laki-laki itu adalah bapak kandungnya. Lalu
misalnya lagi : (begitu banyak bisa kita buat)

Nah, dari contoh itu, premis atau ide cerita sederhana itu mengarah dalam
diri tokoh utama.

Dari sinilah skenario mulai berproses dengan bagan yang biasa kita kenal :

*BASIC IDEA – BASIC STORY – SINOPSIS – TREATMENT (SCENE PLOT) – SKENARIO*.

*Premis* mengarah menjadi *Basic Idea (BI)*, yang merupakan gagasan lebih
lanjut dari premis terhadap skenario yang akan kita buat. Dalam BI ini,
belum ada gambaran tentang cerita, tokoh, bahkan adegan demi adegan yang
akan kita buat. BI saya anggap perlu, karena ini diperlukan untuk menjaga
arah cerita, agar cerita tetap berada di jalannya.

Contoh BI yang kita angkat dari premis di atas :

"Kegelisahan seorang remaja yang ingin tahu siapa bapak kandungnya dan rasa
kecewanya terhadap ibunya yang menutupi soal itu".

Nah, dari sini kita sudah bisa membayangkan arah skenario yang akan kita
buat. Tapi kita belum memiliki acuan yang nyata, bahkan cerita secara garis
besarnya pun belum kita punya.

Berangkat dari BI, kita mengarah pada *Basic Story (BS*). Di dalam BS inilah
kita mencoba membuat arahan cerita yang sedikit lebih jelas. Terutama
tentang tokoh utama, tokoh pembantu, dan tokoh-tokoh lainnya yang
diperlukan. Juga kemana arah cerita yang akan kita buat.

Contoh BS :

"Karena tidak mendapatkan kejelasan siapa bapak kandungnya, Sisi kecewa
terhadap ibunya. Dia lalu mengajak teman-temannya untuk berlibur ke sebuah
pulau yang setuju setelah mengetahui apa yang dialami Sisi. Ada yang pro dan
kontra pada Sisi akan sikapnya pada ibunya. Di pulau itu, Sisi dan
teman-temannya mengalami peristwa-peristwa aneh, dengan terjadi pencurian
bahkan pembunuhan. Mereka saling curiga. Tak sengaja bertemu dengan seorang
lelaki yang mereka anggap sebagai pelakunya yang kemudian diketahui itu
adalah bapak kandungnya Sisi". (… seterusnya bisa diisi masing-masing)

Nah, secara sederhana BS sudah kita dapatkan. Kita bisa mendapatkan arahan
cerita yang lebih lengkap dari sebelumnya.

Setelah BS kita lalui, kita mulai membuat *sinopsis*. Berbeda dengan
sinopsis cerpen atau buku, sinopsis skenario harus dibuat jauh lebih
lengkap. Dalam sinopsis skenario, urutan cerita sudah mulai terbentuk, meski
belum final. Fungsinya, bila kita hendak mempresentasikan, kita sudah punya
gambaran utuh dari cerita itu.

Biasanya dalam sinopsis diutamakan menceritakan :

Tokoh utama dan tokoh pembantu – peristiwa dan waktu kejadian – main story
(cerita utama) dan side story (cerita pendukung) – motivasi tokoh –
hambatan-hambatan yang dialami tokoh utama – jalan keluar dari setiap
masalah dan hambatan serta apa yang dilakukan para tokoh – ending atau
penutup dari cerita.

Itulah maksud saya perbedaannya dengan sinopsis sebuah cerpen atau pun
novel.

Lalu sekarang kita masuk pada *treatment*.

Treatment (banyak juga yang menyebutnya scene plot) adalah sebuah arah atau
sketsa yang lebih jelas untuk menuju ke sebuah skenario. Di sini susunan
cerita sudah terbentuk secara nyata, dimulai dari awal cerita sampai akhir,
pergerakan tokoh, kejadian demi kejadian dikemukakan secara jelas. Sehingga
dramatik cerita nampak nyata dan tidak kabur.

Dalam menulis treatment, dialog sama sekali belum dibuat, karena treatment
adalah arahan scene by scene yang menceritakan apa yang terjadi dan
bagaimana kelanjutan dari scene by scene menuju ending.

Treatment diperlukan, karena selain kita sudah menangkap dan menilai daya
tarik cerita secara utuh (juga memudahkan untuk mengoreksinya sebelum
membuat skenari), dalam presentasi pun kita dengan mudah menceritakan apa
yang ingin kita buat.

Barangkali mudahnya seperti ini. Kita harus pahami dulu tentang segala macam
tetek bengek teknis penulisan skenario.

*Tentang setting :*

Biasanya ditulis EXT (exterior) atau INT (Interior) yang menandakan di mana
kejadian yang akan kita tuliskan itu terjadi. Lalu ada tempat yang akan
tuliskan. Hingga jadinya misalnya :

· 01. EXT – RUANG KELAS

01 menunjukkan itu berada pada scene ke berapa. Seterusnya 01, 02, 03, …

Ext itu menunjukkan berada di luar dalam hal ini, di luar kelas. Bila ingin
menunjukkan di dalam dituliskan : Int.

*Tentang Waktu :*

Ini diperlukan untuk mengingatkan, kapan kejadian itu terjadi. Hingga
jadinya :

· 01. EXT – RUANG KELAS – PAGI

Ada juga yang menambahkan tentang hari di belakangnya, ini untuk mengetahui
pada hari keberapa kejadian itu terjadi. Jadi ditambahkan :

· 01. EXT – RUANG KELAS – PAGI (h-1)

H-1 itu menunjukkan hari pertama. Berikutnya H-1, H-2, H-3, …

*Tentang Pemain :*

Ada juga skenario yang memerlukan nama pemainnya dituliskan, dengan maksud
agar yang emmbaca segera tahu siapa yang bermain dari scene by scene, hingga
ketika membuat breakdown (biasanya dilakukan oleh bagian yang memproduksi
skenario), tidak kesulitan lagi untuk mengetahui siapa pemainnya. Tapi
tidak semua yang menerapkan gaya seperti itu. Hingga jadinya :

· 01. EXT – RUANG KELAS – PAGI

Pemain : Sisi, Indra, Wahyu

Hal teknis lainnya adalah seputar tetek bengek soal skenario. Misalnya
CUT-TO, INTERCUT-TO, CONT'D-TO, INSERT, VOICE OVER dan lainnya yang dengan
mudah bisa kita pelajari. Untuk teknis yang ini, silakan membaca buku-buku
panduan skenario yang sudah ada.

Yang tetap ingin saya tekankan dalam diskusi kita ini, adalah sisi mudah dan
sederhana tanpa diribetkan oleh masalah-masalah teknis. Jadi pointnya tetap
:

*BASIC IDEA – BASIC STORY – SINOPSIS – TREATMENT (SCENE PLOT) – SKENARIO.*

Nah, kalau semua ini sudah kita kuasai, mari, *mulailah menulis SKENARIO…*

Caranya gimana, mulaikan menuliskan dialog dari treatment atau scene plot
yang kita buat. Yang perlu diingat, skenario bisa melompat ke mana saja,
baik itu dari segi setting maupun waktu.

Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam,

Rabu, Juni 10, 2009

acuan dasar acara televisi

0 komentar

Dalam membuat sebuah program acara televisi ada lima acuan dasar yang sangat penting sbagai landasan awal pembuatan program acara tesebut. Lima acuan ini sangat berkaitan satu dengan yang lainya. Kalau salah satu acuan ini tidk ada ada maka acaratelevisi tidak dapat di laksanakan.
  1. ide
Biasanya ide sebuah acara televisi ini di dapat dari produser, tapi tidak ada kemungkinan ide berasal dari kerabat kerja dan masukan dari orang lain. Ide ini merupakan rancangan yang berisi pesan yang akan di sampaikan kepada penonton. Karma itu dalam menyesuaikan ide ini kedalam bentuk naskahharus memperhatikan faktor penonton
  1. pengisi acara
Pengisi acara ini biasa juga di sebut dengan artis. Seorang artis bisa dari orang yang terkenal, cendikiawan, pakar telematika, dll. Seorang artis harus menjalin hubungan kerjasama dengan kerabat kerja agar tujuan dari acara tersebut berjalan sesuai dengan rencana.
  1. peralatan
Batapapunkecilnya sebua produksi acara kita tetap membutuhkan alat seperti kamera, lampu, mikrofon, dll, agar hasil dari produkasi bagus da berkualitas.
  1. kerabat kerja
Kerabat kerja merupakan satuan kerja yang akan menagani produksi acara bersama-sama sesuai dengan bidangnya masing-masing sampai hasil produksi tersebut dinyatakan layak di tayangkan.
  1. penonton / audiens
Tanap adnay penonton pesan / progaram acara yang di buat tidak akan artinya. Mereka adalah faktor yang ikut menentukan berhasil atau tidaknya sebuah produksi acar.